Yogyakarta, 26 Oktober 2026 — Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., menilai penguatan perdagangan global Indonesia memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan stabilitas ekonomi dalam negeri dengan dinamika perdagangan internasional.
“penguatan perdagangan global Indonesia perlu pendekatan holistik yang mengintegrasikan stabilitas ekonomi dalam negeri dengan dinamika perdagangan internasional.” Katanya.
Menurutnya, pemerintah perlu mampu merespons perubahan kebijakan tarif, persaingan antarnegara, ketegangan geopolitik, dan pergeseran rantai pasok global agar kepentingan perdagangan nasional tetap terjaga.
Prof. Sidik menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam perdagangan internasional berkat luas wilayah, kekayaan sumber daya alam, serta potensi komoditas unggulan yang dapat dipasarkan ke berbagai negara.
“Indonesia punya posisi strategis dalam perdagangan internasional berkat luas wilayah, kekayaan sumber daya alam, serta potensi komoditas unggulan yang dapat dipasarkan ke berbagai negara.” Katanya.
Potensi tersebut menjadi daya tarik bagi mitra dagang dan investor asing untuk menjalin kerja sama ekonomi, mengembangkan industri, serta memperluas jaringan perdagangan. Namun, keunggulan tersebut perlu didukung kebijakan ekspor yang konsisten, kepastian regulasi, dan tata kelola perdagangan yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan pasar global.
Ia menambahkan, stabilitas sosial dan politik Indonesia turut menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan mitra dagang internasional.
“Masyarakat Indonesia yang moderat dalam kehidupan sosial dan politik dapat mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif.” Ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk menjaga keberlanjutan hubungan dagang, memperkuat kemitraan ekonomi, serta menarik investasi yang berorientasi pada pengembangan perdagangan jangka panjang.
Dalam menghadapi persaingan pasar global, Prof. Sidik menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memperkuat fondasi perdagangan nasional.”
Pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan kualitas produk lokal, serta perluasan akses pasar ekspor perlu menjadi bagian dari strategi perdagangan Indonesia.” Katanya.
Dengan dukungan pemerintah dalam hal standardisasi produk, kemudahan akses pasar, dan promosi perdagangan, UMKM berpeluang meningkatkan daya saing sekaligus berpartisipasi dalam rantai pasok internasional.Menurutnya, hubungan antara stabilitas domestik dan perdagangan global bersifat saling berkaitan.
“Ketahanan ekonomi dalam negeri membantu Indonesia menghadapi gejolak pasar internasional, sementara perdagangan dan ekspor yang berkembang dapat memperluas pasar produk nasional, meningkatkan devisa, serta membuka peluang investasi dan lapangan kerja.” Katanya.
Karena itu, koordinasi kebijakan perdagangan dengan kebutuhan pelaku usaha dan perkembangan ekonomi global perlu terus diperkuat.
“Luas wilayah, kekayaan sumber daya alam, stabilitas sosial-politik, dan partisipasi masyarakat merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan dunia.” katanya.
Dengan mengoptimalkan potensi tersebut, meningkatkan nilai tambah produk nasional, serta memperluas kemitraan dengan negara lain, Indonesia berpeluang membangun perdagangan global yang lebih kompetitif, adaptif, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kemajuan perdagangan global Indonesia tidak hanya diukur dari peningkatan nilai ekspor dan investasi asing, tetapi juga dari kemampuan memperluas manfaat perdagangan bagi masyarakat.
Sinergi pemerintah, pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
