Jakarta, NusantaraDaily – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mampang Prapatan Bangka 2, Jakarta Selatan, Suhardiman, menegaskan pentingnya tata kelola yang efektif dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mencegah risiko keracunan makanan pada penerima manfaat.
“Menurut pengamatan kami, tata kelola Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini diterapkan telah berjalan sangat efektif dan mampu menjadi sistem pencegahan keracunan yang berlapis,” ujar Suhardiman.
Ia menjelaskan, efektivitas tata kelola tersebut ditopang empat aspek utama, yaitu pemeriksaan bahan baku, pengolahan makanan yang higienis, pengaturan waktu dan distribusi, serta pengawasan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
“Setiap bahan pangan yang masuk ke SPPG wajib melalui proses sortasi, pengecekan kesegaran, pengecekan tanggal kedaluwarsa, dan kebersihan kemasan. Kami juga telah memiliki daftar pemasok terverifikasi. Jika ditemukan bahan yang tidak sesuai standar, maka langsung kami kembalikan,” jelasnya.
Dalam proses pengolahan, seluruh juru masak diwajibkan menggunakan alat pelindung diri, seperti celemek, masker, dan sarung tangan. Pemisahan area bahan mentah dan matang serta penggunaan peralatan memasak yang berbeda juga diterapkan untuk mencegah kontaminasi silang.
Suhardiman menambahkan, pengawasan suhu dan durasi memasak menjadi bagian dari prosedur untuk memastikan makanan diolah sesuai standar keamanan pangan.
“Kami menerapkan prinsip zero delay. Makanan dimasak dalam rentang waktu yang dekat dengan jam distribusi untuk menjaga kesegaran. Sebelum didistribusikan, setiap ompreng wajib melewati quality control oleh ahli gizi dan penanggung jawab SPPG,” ungkapnya.
Menurutnya, pemeriksaan sebelum distribusi dilakukan untuk memastikan makanan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan, seperti perubahan aroma, rasa, maupun warna.
Selain itu, pengawasan pelaksanaan MBG melibatkan yayasan, Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Kesehatan, dan Puskesmas setempat. Edukasi berkelanjutan kepada para relawan mengenai keamanan pangan juga menjadi bagian dari upaya pencegahan.
“Dengan empat pilar tata kelola tersebut, kami berani menjamin bahwa Program MBG yang kami jalankan tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi yang paling utama adalah menjamin keamanan dan keselamatan anak-anak penerima manfaat agar terhindar dari risiko keracunan,” tegas Suhardiman.
