Setiap September, ruang publik kembali dipenuhi pembahasan mengenai “September Hitam”. Berbagai elemen mahasiswa, masyarakat sipil, dan komunitas menggelar diskusi, pemutaran film, hingga aksi penyampaian pendapat untuk mengingat kembali sejumlah peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di masa lalu.
Tradisi mengingat sejarah memiliki arti penting. Sebuah bangsa tidak dapat membangun masa depan tanpa memahami pengalaman masa lalunya. Ingatan kolektif menjadi pengingat agar negara dan masyarakat tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, ada pertanyaan yang perlu terus dikaji: mengapa isu pelanggaran HAM sering kali kembali menjadi perhatian besar hanya pada momentum tertentu? Apakah persoalan HAM sudah benar-benar menjadi agenda berkelanjutan, atau masih sering muncul sebagai isu yang menguat pada periode politik maupun peringatan tahunan?
Persoalan HAM seharusnya tidak berhenti sebagai agenda musiman. Penghormatan terhadap hak warga negara, penegakan hukum, serta pemulihan korban merupakan tanggung jawab yang harus berjalan secara konsisten.
Mengingat Sejarah, Menjaga Agar Tidak Terulang
Pelanggaran HAM berat masa lalu merupakan bagian dari perjalanan bangsa yang tidak dapat diabaikan. Negara telah mengakui adanya sejumlah peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu dan menyampaikan komitmen untuk melakukan langkah pemulihan bagi korban serta mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Pengakuan terhadap sejarah menjadi langkah penting karena menunjukkan bahwa pengalaman korban tidak boleh dihapus dari ingatan publik. Namun, mengingat masa lalu tidak berarti masyarakat harus terus terjebak dalam konflik sejarah tanpa mencari jalan penyelesaian.
Ingatan seharusnya menjadi dasar untuk memperbaiki sistem. Pelajaran dari masa lalu perlu diterjemahkan menjadi penguatan institusi, penghormatan terhadap hukum, serta perlindungan terhadap hak setiap warga negara.
Pemulihan Korban Harus Menjadi Prioritas
Di tengah berbagai kegiatan peringatan, terdapat satu hal yang tidak boleh dilupakan: korban dan keluarga korban bukan sekadar bagian dari narasi sejarah.
Mereka adalah individu yang mengalami dampak langsung dari peristiwa masa lalu. Karena itu, perhatian terhadap korban harus diwujudkan dalam bentuk pemulihan yang nyata, mulai dari dukungan sosial, akses kesehatan, pendidikan, kesempatan ekonomi, hingga pemulihan atas dampak psikologis dan sosial yang mereka alami.
Peringatan tanpa pemulihan berisiko menjadikan pengalaman korban hanya sebagai simbol tahunan. Padahal, tujuan utama dari penyelesaian persoalan HAM adalah memastikan korban memperoleh hak dan kehidupan yang lebih baik.
Pemerintah telah menjalankan sejumlah langkah pemulihan melalui mekanisme non-yudisial bagi korban pelanggaran HAM berat masa lalu. Pemerintah juga menyampaikan bahwa pendekatan tersebut tidak menutup kemungkinan penyelesaian melalui mekanisme hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, proses pemulihan perlu terus dikawal agar berjalan transparan, tepat sasaran, dan benar-benar menjawab kebutuhan korban.
Dari Simbol Peringatan Menuju Perubahan Nyata
Diskusi, film dokumenter, aksi massa, dan berbagai bentuk ekspresi publik memiliki peran penting dalam menjaga kesadaran masyarakat terhadap isu HAM. Kebebasan untuk mengingat dan menyampaikan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Namun, perjuangan mengenai HAM tidak seharusnya berhenti pada simbol dan peringatan tahunan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana ingatan tersebut menghasilkan perubahan konkret.
Masyarakat sipil dapat terus berperan melalui pengawasan, kajian, advokasi, dan pendampingan korban. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebijakan pemulihan berjalan serta memperkuat sistem agar pelanggaran serupa tidak terjadi kembali.
Dengan demikian, perdebatan mengenai HAM dapat bergerak dari sekadar mengingat apa yang telah terjadi menuju upaya memperbaiki apa yang masih harus diselesaikan.
Menjadikan September Hitam Sebagai Pelajaran Bersama
Indonesia tidak boleh melupakan masa lalu. Namun, bangsa ini juga tidak boleh berhenti hanya pada luka sejarah.
Menghormati korban berarti memastikan mereka memperoleh pemulihan. Mengingat sejarah berarti membangun sistem yang lebih baik. Dan menjaga masa depan berarti memastikan negara memiliki mekanisme yang kuat untuk melindungi hak seluruh warga negara.
September Hitam seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang tragedi, tetapi juga menjadi pengingat bersama bahwa keadilan, pemulihan korban, dan pencegahan pelanggaran HAM adalah pekerjaan yang harus terus berjalan sepanjang tahun.
