Peringatan September Hitam merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat di ruang publik. Momentum ini digunakan untuk mengingat kembali berbagai kasus pelanggaran HAM di masa lalu sekaligus mengajak masyarakat agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Mengingat sejarah kelam tentu penting. Sebab, masyarakat perlu terus belajar dari berbagai peristiwa masa lalu agar penyelesaian persoalan HAM tidak berhenti pada ingatan, tetapi juga mendorong upaya pencegahan agar pelanggaran serupa tidak terulang.
Namun, kebebasan berekspresi juga harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Aksi September Hitam semestinya disampaikan secara damai, tertib, dan sesuai dengan ketentuan hukum. Aspirasi yang kuat tidak harus disampaikan dengan kerusuhan.
Karena itu, segala bentuk provokasi untuk melakukan tindakan anarkis perlu ditolak. Jangan sampai agenda mengingatkan publik tentang HAM justru berubah menjadi tindakan yang merugikan masyarakat, merusak fasilitas umum, atau mengganggu hak warga lainnya.
Sejumlah organisasi juga menyerukan agar penyampaian aspirasi dalam momentum September Hitam tetap berlangsung secara damai. Salah satunya Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) yang menekankan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di tengah munculnya isu tersebut.
Ketua Umum PP HIMMAH Abdul Razak Nasution mengatakan kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat merupakan hak yang dijamin konstitusi. Karena itu, demonstrasi dapat dilakukan selama tetap mengikuti aturan yang berlaku.
Razak juga meyakini Polri bersama masyarakat mampu menjaga keamanan dan ketertiban. “Saya meyakini Polri bersama dengan dukungan rakyat akan mampu menjalankan tugasnya sesuai dengan UU yakni menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Polri juga menyatakan penghormatan terhadap hak masyarakat menyampaikan aspirasi. Dalam pengamanan aksi September Hitam di Sleman, misalnya, kepolisian mengedepankan pendekatan humanis dan mengapresiasi peserta yang menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai.
Pada akhirnya, September Hitam seharusnya menjadi ruang untuk mengingat, belajar, dan menyampaikan kritik, bukan ruang untuk provokasi dan kerusuhan. Kebebasan berekspresi tetap penting, tetapi menjaga kedamaian dan hak masyarakat lain juga merupakan bagian dari tanggung jawab demokrasi.
