Pasca ditetapkannya kasus penyadapan mantan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit, dkk, kini ramai ajakan aksi demonstrasi yang beredar menjelang 10 November mendatang. Seruan turun ke jalan tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai tujuan dan kepentingan di balik mobilisasi massa yang sedang berkembang.
Penyampaian aspirasi melalui demonstrasi merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan pendapat terhadap pemerintah selama dilakukan secara tertib, damai, serta sesuai dengan ketentuan hukum.
Namun, publik juga perlu waspada apabila aksi yang semula mengatasnamakan aspirasi masyarakat justru diarahkan menuju kerusuhan. Sebab, tindakan anarkis bukan lagi sekadar penyampaian pendapat, melainkan berpotensi menjadi alat untuk menciptakan instabilitas politik dan keamanan nasional.
Muncul dugaan bahwa mobilisasi aksi tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok oligarki dan elite politik yang memiliki kepentingan tertentu. Terlebih, situasi politik yang tidak stabil bisa menjadi celah bagi pihak-pihak yang ingin menggoyang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bukan tidak mungkin, demonstrasi dijadikan kendaraan untuk mencapai agenda politik tertentu. Aspirasi masyarakat yang seharusnya menjadi ruang demokrasi justru berisiko ditunggangi oleh kepentingan kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan dari kekacauan.
Karena itu, masyarakat harus semakin kritis dalam menyikapi setiap ajakan demonstrasi. Jangan mudah percaya pada narasi provokatif, apalagi sampai bersedia menjadi alat mobilisasi bagi elite yang memiliki agenda tersembunyi.
Kebebasan menyampaikan pendapat harus tetap dihormati. Namun, kebebasan tersebut juga harus disertai tanggung jawab. Jangan sampai masyarakat yang turun ke jalan justru menjadi korban kepentingan politik pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Indonesia membutuhkan stabilitas, persatuan, dan suasana yang kondusif agar pembangunan dapat terus berjalan. Perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah belah masyarakat atau menciptakan kekacauan.
Momentum 10 November seharusnya menjadi pengingat tentang pentingnya persatuan dan perjuangan menjaga bangsa. Jangan biarkan Indonesia menjadi panggung pertarungan kepentingan elite. Jaga demokrasi, jaga persatuan, dan jaga Indonesia tetap damai.
